Assalamua'alaikum wr. wb Konichiwaa reader's? gmna niy kabar hari minggunya? mungkin ada yang jalan-jalan sama keluarganya atau sama sahabat-sahabatnya atau kaya aku diem di rumah, sambil Browsing tentunya heheh..
by the way~ apa sih yang kalian lakukin kalo Browsing aku bisa taksir pasti Website pertama yang dibuka itu Facebook, walau emang tadinya niat ngerjain tugas di warnet, eehh malah Facebook'n *pengalaman*
heheh itu cuma sharing aja ko,,
oiya kalian pasti udah kenal ama media social kaya Facebook, Twitter, My space, Skype dll..
tapi kalian tau ga Media sosial network pertama di dunia? hayoo apaa??
itu friendster, mungkin ada yang uda tau bahkan pernah punya account di friendster. kalo aku gak punya account Friendster, account Facebook juga baru punya sekitar 4taun yang lalu *ketinggalan zaman*
teruuss.. sekarang gimana niy nasib pendiri Friendster?
cekidoott ;)
Jonathan Abrams tentu nama yang terdengar
asing di telinga. Tapi, jika menyebut Friendster, pasti Anda pernah
mendengar, atau bahkan aktif di jejaring sosial yang bisa dibilang
pertama tersebut. Nah, Abrams merupakan pendiri Friendster.
Abrams
memang tak mencapai ketenaran seperti Mark Zuckerberg yang mendirikan
Facebook, dan hanya diketahui sebagai orang yang mendirikan Friendster.
Meski begitu, Friendster tetap dikenang sebagai jejaring sosial pertama,
yang lahir setahun sebelum MySpace dan dua tahun sebelum Facebook.
Sayang, popularitas Friendster semakin meredup. Lalu, bagaimana nasib Jonathan Abrams sekarang?
Mengutip laman GigaOm, Abrams diketahui mendirikan start up baru yang bernama Nuzzel, yang juga layanan serupa jejaring sosial berpadu news feed.
Jika
Friendster dinilai gagal karena terlalu awal memasuki "pesta media
sosial", perusahaan baru Abrams diprediksi menghadapi kendala awal:
Apakah Nuzzel berhasil mencuri perhatian di saat pasar social-news mulai sedikit meredup.
Sebelum mendirikan Friendster, sebenarnya Abrams pernah mendirikan sejumlah start up yang juga menjadi pelopor di bidangnya. Misalnya, Hotlinks, yang merupakan layanan social-bookmarking. Pria kelahiran Kanada ini mendirikan Hotlinks setelah keluar dari Netscape.
Sayangnya, Hotlinks diluncurkan terlalu cepat, dan lima tahun sebelum Delicious sukses menjadi layanan social-bookmarking.
Abrams juga pernah meluncurkan situs perencanaan event bernama Socializr. Sayangnya, situs ini tak berhasil menarik perhatian dan dijual pada 2010.
Ketika itulah Abrams kemudian pindah ke San Francisco. Abrams kemudian mengelola klub malam bernama Slide dan private club, sekaligus ruang kerja bernama Founders Den.
Meski
begitu, Abrams mengaku tetap tertarik dengan media sosial. Salah satu
ketertarikannya adalah untuk mengatasi masalah informasi yang membeludak
(overload), yang sering dialami jejaring sosial seperti Twitter.
"Saya
pernah mulai menjauhkan konsumsi berita dari RSS dan tempat seperti
MyYahoo. Dan saya mulai menggunakan Twitter lagi, dan lagi," tutur
Abrams, seperti dikutip dari GigaOm.
"Tapi, saya menemukan jika mengecek itu beberapa kali dalam sehari, saya merasa kehilangan banyak hal. Saya butuh sejumlah tool yang bisa membantu saya untuk mengatur segala sesuatu," ucapnya.
Tapi, bukannya mengecek salah satu layanan terkait penyedia filter dan rekomendasi seperti Zite atau Summify, programmer
yang mulai bekerja di laboratorium Bell Northern Research di Kanada ini
malah memutuskan untuk membuat layanan sendiri. Ini yang menjadikan
Abrams mendirikan Nuzzel.
Pengguna kemudian login menggunakan
profil dari akun Twitter atau Facebook dan logaritma milik sistem Nuzzel
akan masuk ke arus aktivitas pengguna. Selain itu, akan menarik artikel
berita yang telah di-share dan direkomendasikan oleh sejumlah followers.
Layanan ini juga menggunakan sinyal semantik untuk meng-generate konten yang direkomendasikan, yang telah di-share oleh seseorang dalam grafik sosial milik pengguna. (art)
source: http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/351373-seperti-apa-nasib-pendiri-friendster-sekarang-
Sabtu, 23 Maret 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar